Tampilkan postingan dengan label Islam is My Way. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam is My Way. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juli 2021

BERSYUKURLAH,, MAKA KAMU AKAN BAHAGIA

BERSYUKUR = BAHAGIA

Manusia adalah wayang
Allah adalah dalang
Aku yakin Allah senantiasa bersamaku
Dia Kuatkan aku
Memutuskan mengambil study di negeri sebrang
Fokus belajar tuk bekal ke depan
Bukanlah datang secara tiba-tiba
Banyak yang harus dipertimbangkan
Terkait biaya utamanya
Aku yang notabenya selalu belajar nyambi bekerja
Yang tak pernah jauh dari orangtua
Tetiba memutuskan untuk pergi belajar di sana
Setelah melewati beberapa perenungan
Akhirnya down payment pun terbayar
Namun Tuhan berencana lain
Satu minggu sebelum keberangkatan
Tetiba Bapak sakit
Panik dong!!!!!
Hingga kuputuskan menunda keberangkatan
Ya,, dari situ lagi dan lagi.
Dia tunjukkan,, rencanaNya jauh lebih baik.
Bagaimana tidak???
Di sana,, aku dikelilingi oleh orang-orang yang hebat
Yang sama-sama berjuang menggapai asa
Di lain sisi,, diri ini juga belajar tentang masalah hati
Bahwasanya ada yang diuji oleh Allah lebih berat daripada aku😆
Bahkan masih banyak di luar sana,, yang mungkin tidak kuketahui
Setidaknya dariNya,,
Dia. .. . Allah Tabarokallahu Wa Ta'ala
Membuka mataku
Membuka hatiku
Membuka pikiranku
Ya Allah,,
Ampunilah aku
Yang terkadang masih terbesit keraguan dalam hatiku
Sungguh,, Kemuliaan itu MilikMu

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dian?

Sabtu, 26 Juni 2021

CINTA & DOA

Jangan pernah berhenti mendoakan seseorang. Karena disaat engkau mendoakannya dalam diam, malaikat menyambutnya, dan berkata

"semoga untukmu juga"
Tahukah engkau, bahwasanya mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia.
~Halim Ghani
Teruslah berdoa, teruslah meminta karena engkau tak akan pernah tau doamu yang mana yang akan dikabulkan oleh-Nya.

Kisahku dan dia, bermula dari kagum hingga berujung cinta dalam doa.
aku yang notabenya bukanlah ahli agama, memilih menyapanya dalam doa di setiap akhir malam. Yang katanya, Tuhan Tabarakallahu wa ta'ala turun ke bumi pada waktu itu, dimana setiap doa akan dikabulkan oleh-Nya, ibarat anak panah yang dilepaskan dari busurnya, yang pasti tepat pada sasarannya.
iya, kala itu, waktu itu, aku yang belum begitu mengerti arti cinta, memilih dia, memanggil dia dalam untaian doa.

Singkat cerita, pada akhirnya Tuhan benar-benar mendekatkan dia padaku, dengan cara-Nya yang tak pernah kuduga sebelumnya. bahagia? pasti. 
tidak percaya? sangat. 
bagaimana bisa? entahlah. 
Kubercerita pada beberapa temanku, tentang kisah ini. Namun, tidak ada yang benar-benar tau kisahku, kecuali diriku dan Tuhanku.

Aku bahagia, benar-benar bahagia. Setiap malam ia datang menjemputku, dan disepanjang jalan itu ia membagikan kisahnya padaku, tentang waktu yang telah ia lalui dari pagi hingga pagi. Indah, ketika cinta itu sama-sama bersayap, sama-sama berjuang.

Namun entah mengapa, pada akhirnya sebelum kisah itu usai, bibirku terasa berat menyebut namanya, dan iya, aku memilih menghapus dia secara perlahan. Masih ingat betul, kala itu, aku berkisah pada salah satu temanku. Dia terkejut, ketika aku berkisah demikian. 
"Doa itu perkara yang baik", ucapnya. 
"Iya, aku tau. Namun aku tak tau, aku takut, jikalau aku mendekte Tuhanku, toh kalau dia tercipta untukku, dia akan kembali padaku", jawabku.

Pada akhirnya aku menyadari, Tuhan mendekatkan dia padaku sebagai bukti bahwa memang benar doa pada akhir malam pasti dikabulkan oleh-Nya. Dan Tuhan menyudahai kisahku dengannya sebagai bukti akan Kuasa-Nya. Lantas, apa yang masih kau ragukan tentang kebesaran Tuhan????

Karena seringkali pilihan Tuhan tidak seperti yang kita inginkan. Tapi, kita akan mengerti pilihan-Nya lah yang terbaik
~Hirza
Allah knows everything

#cinta_dan_doa
#rahasia_tahajud
#June, 118

Sabtu, 01 Juli 2017

Khadijah Al-Kubra

Sebuah novel karangan Sibel Eraslan dari Istanbul Turki. Jika dibilang novel, tapi lebih ke arah biografi. Jika dibilang biografi, bahasa dan perumpamaan yang digunakan seperti novel. Novel yang menceritakan kisah perjalanan hidup Ibunda Kota Mekah yang kedua, Khadijah Al-Kubra. Yang menarik dari novel ini adalah penggambaran mimpi-mimpi Khadijah tentang baginda Rasulullah.
Di sini diceritakan sebelum Khadijah bertemu Rasulullah, Khadijah sering bermimpi sedang berjalan ke angkasa. Mulanya, dia mendapati bintang-bintang yang bersinar bagaikan kilatan perhiasan di atas langit yang biru kelam. Saat dia merasa seolah terbang dan terus berjalan di ketinggian udara, dia menyaksikan gugusan planet-planet di angkasa. Dia pun berpikir untuk menembus gugusan galaksi yang penuh dengan bintang-bintang itu. Terbang dan terus terbang ke angkasa. Kemudian, dia mendapati mentari dalam lingkaran cahayanya. Dia diam, hanya diam termenung di sana. Tertegun memandangi indahnya pancaran cahaya yang merasuk dalam jiwa, menerangi hatinya.
Sesampainya di pusat sang surya, entah mengapa pengembaraannya terhenti.  Mimpi yang dilihatnya telah menjadikan jiwa dan raganya merasakan sebuah perjumpaan. Keindahan rasa perjumpaan itu meluap-luap ibarat pancaran cahaya mentari yang mengenai tubuhnya yang tembus cahaya. Cahaya yang terbiaskan dari prisma dan kemudian dipancarkan kembali dalam aneka warna. Mimpi tanpa udara, karena hanya ada Khadijah Al-Kubra disana, dalam mimpinya.
Khadijah merasakan dingin yang menyelimuti jiwanya. Entah mengapa dia menggigil seketika. Hal apakah yang membuatnya demikian? Mungkinkah karena gejolak di hatinya? Gejolak karena ingin mencintai dan dicintai. Mungkin inilah yang namanya dilema rasa.
Mim. Sebuah kata kunci, rumus, sandi dan juga tanda tangan. Sebuah huruf yang seolah tampak dalam setiap apa yang dilihatnya. Seolah seluruh bahasa di dunia kehilangan kata-kata, membisu dan terpaku. Ya, “mim” adalah sebuah mata yang kini telah menjadi matanya.
Saat dia berucap “mim”, seolah-olah sekujur tubuhnya menjadi cair olehnya. Tertegun dalam jiwa yang penuh ketundukan. Seakan-akan ruhnya terbang membubung hingga ke angkasa. Tubuh Khadijah seolah membatu, menantikan kedatangannya. Khadijah menunggu di balkon lantai atas rumahnya. Ia terus menatap ke  kejauhan, berharap segera datang seseorang yang telah lama dinantiakan.
Khadijah tampak gugup. Dari mulutnya seolah-olah akan terucap sebuah huruf yang mengawali sebuah kata, “mim”. Namun, tidak lama kemudian, dirinya kembali tersadar. Ia segera berupaya berbenah diri sambil berkata, “Maisaroh..... maksudku..... Maisaroh.”
Ya, bukankah nama seseorang yang sedang ia nanti-nantikan juga berawal dengan huruf yang sama? “Aku sangat merindukan Maisaroh. Sudah lama aku tidak bisa tidur dengan tenang tanpa ada dirinya.” Namun, benarkah seorang Maisaroh yang dirindukannya?
Di sisi lain, kafilah yang sebentar lagi akan sampai ke tanah Mekah pun merasakan kegirangan yang tiada tara. Mereka semakin tidak sabar untuk segera memacu kuda dan mempercepat langkah agar sesegera mungkin sampai di tanah Mekah.
Akhirnya, para kafilah telah sampai. Di tengah-tengah penduduk yang bermandikan kegembiraan, tiba-tiba muncul suatu kejadian yang tampak aneh. Seorang penunggang kuda yang berada di barisan kedua memisahkan diri dari rombongan. Ia terlihat memacu kudanya ke arah Timur, menuju kediaman Khadijah binti Khuwaylid.
Dalam seketika, Khadijah menjadi gugup. Hatinya berdebar-debar. Air matanya hendak berlinang. Ia hanya memberikan isyarat sebagai bentuk ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya, sebagai ungkapan keinginannya untuk membalas semua prestasinya dengan kebaikan yang sebesar-besarnya.
Di hari yang penuh kegembiraan, tempat tinggal Khuwaylid yang sudah sangat tua itu bersinar seperti cahaya lilin di malam hari. Obor dan lilin-lilin menghiasi halaman sampai atap rumah. Tempat tinggal Khadijah layaknya sebuah istana kristal.
Abu Thalib dan Waraqah bin Naufal  adalah dua leluhur yang wajahnya bersinar penuh dengan kegembiraan. Hati mereka penuh dengan kedamaian di hari pernikahan ini.

Anak yatim Mekah dengan mutiara Mekah.
Laki-laki terpercaya Mekah dengan wanita tersuci Mekah.
Pernikahan antara huruf “Kha” dan huruf “mim”.


“Ya kaum Quraisy, jadilah saksi. Saya adalah Waraqah bin Naufal. Dengan mahar 400 dinar, dua belas ukiyah dan satu nashiyah emas, serta 20 unta muda, saya nikahkan Khadijah binti Khuwaylid dengan Muhammad bin Abdullah.”

Melihat hal itu, kaum Quraisy yang berada di luar rumah telah paham bahwa akad nikah telah dilaksanakan.
Langit dan bumi.
Penghuni langit dan penghuni bumi.
Semuanya mengucapkan selamat atas hari yang luar biasa ini.
Bersama-sama merayakan sebuah pernikahan yang indah.
Maha Suci Allah Dzat yang telah menciptakan hamba-Nya berpasang-pasang.
 


Minggu, 25 Juni 2017

Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Kala Ramadhan telah pergi

Takbir berkumandang di hari Fitri

Lapar dahaga yang kita lalui

Semoga berbalas pahala Illahi

Dengan tangkupan sepuluh jemari

Kumohon maaf setulus hati


تقبل الله من ومنكم

صيمن و صيمكم

 وجعلنا الله وايكم من العاءدين والفاءزين

وكل عم وانتم بخير


Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu,

amalan puasa saya dan amalan puasa kamu,

dan semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung,

dan semoga engkau selalu dalam kebaikan sepanjang tahun.

Aaamiin!

Ditunggu kedatangannya sobat




Jumat, 09 Juni 2017

SURGA ATAU NERAKA?



Selasa lalu, di tengah pusat keramaian hiruk pikuk pembelajaran di kampus, ada sebuah diskusi kecil yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi yang tidak direncanakan, tapi menambah pengetahuan.
Diskusi diawali pertanyaan dari Liem, “Masa depan itu apa?”. Fia hanya terdiam. “Kematian”, cetus Lina. “Anda benar, masa depan itu adalah kematian. Jika kita berpikir bahwa masa depan itu adalah menjadi orang sukses, menjadi guru, dokter, presiden dsb, itu adalah sebuah cita-cita.”, jelas Liem.
“Perempuan itu sebenarnya boleh nggak sih memakai celana?”, tanya Lina. “Mending pakai rok, lebih sopan dan tidak menyerupai laki-laki.”, jawab Liem. “Lalu, bagaimana jika naik motor atau naik angkutan umum?”, tambah Lina. “Pakai celana dulu, baru pakai rok. Jadinya, tidak perlu khawatir aurat terlihat.”, jawab Liem kembali. “Ribet tau, masak pakai berangkap-rangkap?”. “Temenku di kampung Iggris lho ada yang gitu, dia suka pakaian berangkap-rangkap, apa nggak ungkep ya? Terkadang aku juga bertanya-tanya”, tambah Nia.
Di tengah-tengah diskusi, pandangan Fia beralih pada dua laki-laki di sebelah kiri Liem. Dua orang laki-laki yang berada pada zona nyaman mereka, tanpa memperdulikan kami yang sedang dihadapan mereka.
“Saya ingin bertanya, ini pernyataan dari Gus Leh, bahwa semua yang terjadi itu karena ridho Allah. Bagaimana menurut kalian?”, tanya Liem. “Semua yang terjadi karena ridho Allah”, gumam Fia. “Enggak semua hal terjadi karena ridho Allah. bunuh diri misalnya.”, sahut Nia. “Aku masih belum bisa memberi jawaban singkatnya sih, tapi di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 79.
 Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisa’: 79).
Bahwa semua kebaikan dari Allah, sedang bencana dari kesalahan diri sendiri. Tapi jika dipikir-pikir, kalau bukan karena ridho Allah, lalu ridho siapa?”, sahut Fia. “Ya sudah, disimpan dulu pertanyaan ini”, tegas Liem.
Seketika pembahasan kami beralih haluan, kami membahas teman kami yang bernama Gus Leh. Siapa sih Gus Leh? Aku aja juga enggak tau siapa. Hehehe. . . .

“Panjang umur, yang dibicarakan datang juga”, ujar Fia membuyarkan pembicaraan kami berenam. “Aku nyariin kamu lho Pras, aku ke kosmu, kamu nggak ada. Kemudian aku ngopi, lalu balik lagi ke kosmu, kamunya juga belum ada. Akhirnya aku nelfon Uje. Ternyata, kamu di sini.”, bilang Gus Leh pada Pras. Setibanya Gus Leh, mendadak diskusi terbagi menjadi beberapa kelompok. Lina, Liem dan Nia. Fia, Uje dan Gus Leh. Terakhir, Pras dan Aji.
suasana diskusi
“Fia, aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu, dan harus dijawab. “Kamu memilih masuk neraka karena ridho Allah, apa masuk surga tanpa ridha Allah?”, tanya Gus Leh pada Fia. “Emang bisa?”, sahut Fia. “Biisa”, jawab Gus Leh. “Ehm.... Pertanyaan yang sedikit membingungkan. Masuk neraka karena ridho Allah atau masuk surga tanpa ridho Allah? Bentar-bentar, karena aku bingung, beri aku sedikit arahan supaya aku bisa menjawabnya”, ujar Fia pada Gus Leh. “Boleh nggak kita meminta pada makhluk”, tanya Gus Leh. Fia terdiam. “Meminta yang bagaimana dulu?”, Uje bertanya. “Gini deh, boleh nggak bersandar pada makhluk?”, tanya Gus Leh kembali. Seketika Fia menjawab nggak boleh. “Ooo... Sekarang saya paham maksud Anda.”, ujar Fia. “Bentar, aku kok nggak paham ya?”, sahut Uje. “Berarti mendingan masuk neraka karena ridho Allah. Karena pada hakekatnya surga dan neraka termasuk makhluk Allah." Jadi, tujuan kita yang sesungguhnya itu bukan masuk surga, melainkan perjumpaan kita dengan Sang Pencipta, Allah. Gus Leh tersenyum. “Bahkan, Rabiah Al Adawiyah pernah membawa obor dan berkata, “Ya Allah, andai aku bisa menghanguskan surga-Mu, pasti sudah aku hanguskan. Supaya manusia benar-benar tulus beribadah kepada-Mu.”, kata Gus Leh. Jadi inget sama lagunya Chrisye & Ahmad Dhani “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”, ucap Fia.
Itulah diskusi kecil yang dilakukan oleh Liem, Lina, Fia, Nia, Gus Leh, Uje, Pras dan Aji Selasa lalu. Pelajaran hari ini, masa depan adalah kematian dan Allah adalah tujuan hidup yang sesungguhnya.