Selasa
lalu, di tengah pusat keramaian hiruk pikuk pembelajaran di kampus, ada
sebuah diskusi kecil yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi yang
tidak direncanakan, tapi menambah pengetahuan.
Diskusi
diawali pertanyaan dari Liem, “Masa depan itu apa?”. Fia hanya terdiam. “Kematian”, cetus Lina. “Anda benar,
masa depan itu adalah kematian. Jika kita berpikir bahwa masa depan itu adalah
menjadi orang sukses, menjadi guru, dokter, presiden dsb, itu adalah sebuah cita-cita.”, jelas Liem.
“Perempuan
itu sebenarnya boleh nggak sih memakai celana?”, tanya Lina. “Mending pakai
rok, lebih sopan dan tidak menyerupai laki-laki.”, jawab Liem. “Lalu, bagaimana
jika naik motor atau naik angkutan umum?”, tambah Lina. “Pakai celana dulu,
baru pakai rok. Jadinya, tidak perlu khawatir aurat terlihat.”, jawab Liem
kembali. “Ribet tau, masak pakai berangkap-rangkap?”. “Temenku di kampung
Iggris lho ada yang gitu, dia suka pakaian berangkap-rangkap, apa nggak ungkep
ya? Terkadang aku juga bertanya-tanya”, tambah Nia.
Di
tengah-tengah diskusi, pandangan Fia beralih pada dua laki-laki di sebelah kiri
Liem. Dua orang laki-laki yang berada pada zona nyaman mereka, tanpa memperdulikan
kami yang sedang dihadapan mereka.
“Saya
ingin bertanya, ini pernyataan dari Gus Leh, bahwa semua yang terjadi itu
karena ridho Allah. Bagaimana menurut kalian?”, tanya Liem. “Semua yang terjadi
karena ridho Allah”, gumam Fia. “Enggak semua hal terjadi karena ridho
Allah. bunuh diri misalnya.”, sahut Nia. “Aku masih belum bisa memberi jawaban singkatnya sih, tapi
di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 79.
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah
dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu
sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah
Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisa’: 79).
Bahwa semua kebaikan dari Allah, sedang bencana dari kesalahan diri
sendiri. Tapi jika dipikir-pikir, kalau bukan karena ridho Allah, lalu ridho
siapa?”, sahut Fia. “Ya sudah, disimpan dulu pertanyaan ini”, tegas Liem.
Seketika
pembahasan kami beralih haluan, kami membahas teman kami yang bernama Gus Leh.
Siapa sih Gus Leh? Aku aja juga enggak tau siapa. Hehehe. . . .
“Panjang
umur, yang dibicarakan datang juga”, ujar Fia membuyarkan pembicaraan kami
berenam. “Aku nyariin kamu lho Pras, aku ke kosmu, kamu nggak ada. Kemudian aku
ngopi, lalu balik lagi ke kosmu, kamunya juga belum ada. Akhirnya aku nelfon
Uje. Ternyata, kamu di sini.”, bilang Gus Leh pada Pras. Setibanya Gus Leh,
mendadak diskusi terbagi menjadi beberapa kelompok. Lina, Liem dan Nia. Fia,
Uje dan Gus Leh. Terakhir, Pras dan Aji.
 |
| suasana diskusi |
“Fia,
aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu, dan harus dijawab. “Kamu memilih masuk
neraka karena ridho Allah, apa masuk surga tanpa ridha Allah?”, tanya Gus Leh
pada Fia. “Emang bisa?”, sahut Fia. “Biisa”, jawab Gus Leh. “Ehm.... Pertanyaan
yang sedikit membingungkan. Masuk neraka karena ridho Allah atau masuk surga
tanpa ridho Allah? Bentar-bentar, karena aku bingung, beri aku sedikit arahan
supaya aku bisa menjawabnya”, ujar Fia pada Gus Leh. “Boleh nggak kita meminta
pada makhluk”, tanya Gus Leh. Fia terdiam. “Meminta yang bagaimana dulu?”, Uje
bertanya. “Gini deh, boleh nggak bersandar pada makhluk?”, tanya Gus Leh
kembali. Seketika Fia menjawab nggak boleh. “Ooo... Sekarang saya paham maksud
Anda.”, ujar Fia. “Bentar, aku kok nggak paham ya?”, sahut Uje. “Berarti mendingan masuk neraka karena ridho Allah. Karena pada hakekatnya surga dan neraka termasuk makhluk Allah." Jadi, tujuan kita yang sesungguhnya itu bukan masuk surga, melainkan perjumpaan
kita dengan Sang Pencipta, Allah. Gus Leh tersenyum. “Bahkan, Rabiah Al
Adawiyah pernah membawa obor dan berkata, “Ya Allah, andai aku bisa menghanguskan
surga-Mu, pasti sudah aku hanguskan. Supaya manusia benar-benar tulus beribadah
kepada-Mu.”, kata Gus Leh. Jadi inget sama lagunya Chrisye & Ahmad Dhani
“Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”, ucap Fia.
Itulah
diskusi kecil yang dilakukan oleh Liem, Lina, Fia, Nia, Gus Leh, Uje, Pras dan
Aji Selasa lalu. Pelajaran hari ini, masa depan adalah kematian dan Allah
adalah tujuan hidup yang sesungguhnya.