Minggu, 25 Juni 2017

Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Kala Ramadhan telah pergi

Takbir berkumandang di hari Fitri

Lapar dahaga yang kita lalui

Semoga berbalas pahala Illahi

Dengan tangkupan sepuluh jemari

Kumohon maaf setulus hati


تقبل الله من ومنكم

صيمن و صيمكم

 وجعلنا الله وايكم من العاءدين والفاءزين

وكل عم وانتم بخير


Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu,

amalan puasa saya dan amalan puasa kamu,

dan semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung,

dan semoga engkau selalu dalam kebaikan sepanjang tahun.

Aaamiin!

Ditunggu kedatangannya sobat




Jumat, 09 Juni 2017

SURGA ATAU NERAKA?



Selasa lalu, di tengah pusat keramaian hiruk pikuk pembelajaran di kampus, ada sebuah diskusi kecil yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi yang tidak direncanakan, tapi menambah pengetahuan.
Diskusi diawali pertanyaan dari Liem, “Masa depan itu apa?”. Fia hanya terdiam. “Kematian”, cetus Lina. “Anda benar, masa depan itu adalah kematian. Jika kita berpikir bahwa masa depan itu adalah menjadi orang sukses, menjadi guru, dokter, presiden dsb, itu adalah sebuah cita-cita.”, jelas Liem.
“Perempuan itu sebenarnya boleh nggak sih memakai celana?”, tanya Lina. “Mending pakai rok, lebih sopan dan tidak menyerupai laki-laki.”, jawab Liem. “Lalu, bagaimana jika naik motor atau naik angkutan umum?”, tambah Lina. “Pakai celana dulu, baru pakai rok. Jadinya, tidak perlu khawatir aurat terlihat.”, jawab Liem kembali. “Ribet tau, masak pakai berangkap-rangkap?”. “Temenku di kampung Iggris lho ada yang gitu, dia suka pakaian berangkap-rangkap, apa nggak ungkep ya? Terkadang aku juga bertanya-tanya”, tambah Nia.
Di tengah-tengah diskusi, pandangan Fia beralih pada dua laki-laki di sebelah kiri Liem. Dua orang laki-laki yang berada pada zona nyaman mereka, tanpa memperdulikan kami yang sedang dihadapan mereka.
“Saya ingin bertanya, ini pernyataan dari Gus Leh, bahwa semua yang terjadi itu karena ridho Allah. Bagaimana menurut kalian?”, tanya Liem. “Semua yang terjadi karena ridho Allah”, gumam Fia. “Enggak semua hal terjadi karena ridho Allah. bunuh diri misalnya.”, sahut Nia. “Aku masih belum bisa memberi jawaban singkatnya sih, tapi di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 79.
 Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An-Nisa’: 79).
Bahwa semua kebaikan dari Allah, sedang bencana dari kesalahan diri sendiri. Tapi jika dipikir-pikir, kalau bukan karena ridho Allah, lalu ridho siapa?”, sahut Fia. “Ya sudah, disimpan dulu pertanyaan ini”, tegas Liem.
Seketika pembahasan kami beralih haluan, kami membahas teman kami yang bernama Gus Leh. Siapa sih Gus Leh? Aku aja juga enggak tau siapa. Hehehe. . . .

“Panjang umur, yang dibicarakan datang juga”, ujar Fia membuyarkan pembicaraan kami berenam. “Aku nyariin kamu lho Pras, aku ke kosmu, kamu nggak ada. Kemudian aku ngopi, lalu balik lagi ke kosmu, kamunya juga belum ada. Akhirnya aku nelfon Uje. Ternyata, kamu di sini.”, bilang Gus Leh pada Pras. Setibanya Gus Leh, mendadak diskusi terbagi menjadi beberapa kelompok. Lina, Liem dan Nia. Fia, Uje dan Gus Leh. Terakhir, Pras dan Aji.
suasana diskusi
“Fia, aku mempunyai sebuah pertanyaan untukmu, dan harus dijawab. “Kamu memilih masuk neraka karena ridho Allah, apa masuk surga tanpa ridha Allah?”, tanya Gus Leh pada Fia. “Emang bisa?”, sahut Fia. “Biisa”, jawab Gus Leh. “Ehm.... Pertanyaan yang sedikit membingungkan. Masuk neraka karena ridho Allah atau masuk surga tanpa ridho Allah? Bentar-bentar, karena aku bingung, beri aku sedikit arahan supaya aku bisa menjawabnya”, ujar Fia pada Gus Leh. “Boleh nggak kita meminta pada makhluk”, tanya Gus Leh. Fia terdiam. “Meminta yang bagaimana dulu?”, Uje bertanya. “Gini deh, boleh nggak bersandar pada makhluk?”, tanya Gus Leh kembali. Seketika Fia menjawab nggak boleh. “Ooo... Sekarang saya paham maksud Anda.”, ujar Fia. “Bentar, aku kok nggak paham ya?”, sahut Uje. “Berarti mendingan masuk neraka karena ridho Allah. Karena pada hakekatnya surga dan neraka termasuk makhluk Allah." Jadi, tujuan kita yang sesungguhnya itu bukan masuk surga, melainkan perjumpaan kita dengan Sang Pencipta, Allah. Gus Leh tersenyum. “Bahkan, Rabiah Al Adawiyah pernah membawa obor dan berkata, “Ya Allah, andai aku bisa menghanguskan surga-Mu, pasti sudah aku hanguskan. Supaya manusia benar-benar tulus beribadah kepada-Mu.”, kata Gus Leh. Jadi inget sama lagunya Chrisye & Ahmad Dhani “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada”, ucap Fia.
Itulah diskusi kecil yang dilakukan oleh Liem, Lina, Fia, Nia, Gus Leh, Uje, Pras dan Aji Selasa lalu. Pelajaran hari ini, masa depan adalah kematian dan Allah adalah tujuan hidup yang sesungguhnya.

Jumat, 26 Mei 2017

RAMADAN



Ramadan tiba.....
Bulan yang ditunggu telah tiba, saatnya mempersiapkan jiwa dan raga untuk menyambutnya. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. MEMANG!
Banyak kesibukan yang dilakukan, mulai ziarah kubur, mempersiapkan makanan, fisik dan mental, tak lupa mempersiapkan hati tuk menyambut bulan yang suci ini supaya lebih dekat pada Sang Illahi.
Kalau kita mau melihat, kalau kita mau mendengar, beribu orang telah mengingatkan. Mengingatkan akan datangnya bulan dimana Kitab Suci Al Quran diturunkan. Marilah kawan kita persiapkan sebagai bukti bahwa kita termasuk golongan orang-orang yang beriman.
Sejenak berfikir, merenung dan bermuhasabbah diri supaya kita tidak termasuk golongan orang yang merugi. Aaamiin.
Alhamdulillah,,
Kata yang sangat sederhana, semua orang bisa mengucapkannya, baik yang tua maupun muda. Tapi sayang, sungguh sayang, lisan kita belum terbiasa melafalkannya.
Ya,, hal sepele yang sering dilupakan. Mengucap syukur pada Sang Pencipta atas umur yang panjang sehingga masih bisa menemui bulan Ramadan. Hanya sekedar mengingatkan, supaya kita tidak termasuk golongan orang-orang yang melupakan nikmat yang telah diberikan.
Bulan yang penuh berkah dan ampunan
Bulan dimana Al Quran diturunkan
Bulan yang menjanjikan
Ampunan bagi setiap insan yang beriman
Bulan dimana kita menahan godaan
Tuk meraih kemenangan
Renungkanlah kawan!!!
Memang benar, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Coba kita tengok, biasanya menjelang ramadan banyak kaum muslimin yang berziarah kubur. Momen ini biasanya dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk mengais rezeki mereka. Ada yang berjualan bunga, membersihkan makam, bahkan ada beberapa warga yang diminta untuk ikut juga berziarah dengan ikut mendoakan.
Selain itu, biasanya tiap sore ada yang namanya pasar ta’jil. Ini juga membawa berkah tersendiri bagi mereka yang berjualan menu-menu ta’jil yang terkadang hanya ada di bulan Ramadan.
Belum lagi menjelang berbuka, kalau yang suka nonton TV pastinya udah nggak asing lagi dengan kultum menjelang berbuka dan acara-acara sahur yang dikemas semenarik mungkin oleh tim kreatif juga membawa berkah tersendiri. Bahkan bukan cuma kita orang Muslim merasakannya. Orang Nonmuslim pun juga ikut merasakan berkah Ramadan. “Bulan Ramadan membawa berkah tersendiri bagi saya dan keluarga”, ujar salah satu komedian Indonesia yang Nonmuslim.
Selain penuh berkah, bulan Ramadan juga penuh dengan ampunan. 
Artinya: “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan shalat malamnya karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, niscaya dia keluar dari dosadosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibundanya. 
Artinya: ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”

Maha Besar Allah Dzat Yang Maha Pengampun. Untuk itu, marilah bersama-sama belajar menjadi hamba yang lebih bertakwa pada Allah Azza Wa Jalla.

 

Senin, 01 Mei 2017

RENCANA SANG PENCIPTA

Dulu aku tak mengerti, sekarang sedikit mengerti, semoga esok lebih mengerti. Aaamiin.
Sebuah teka-teki yang selalu aku dapati, teka-teki penuh misteri. Marah, menangis dan bertanya-tanya. Apa arti dari semua ini?
Masih terngiang di kepalaku, kenapa hanya aku?
Siapa yang tidak marah, kesal, dan kecewa ketika benar semua, tapi hanya mendapat nilai tujuh puluh lima?
Ketika aku mengerti, aku tahu! Bahwa nilai hanyalah deretan angka 0-9. Dalam hati aku berujar, yang terpenting bukan itu Dian. Seolah jiwaku berbicara,
Coba bertanyalah pada dirimu, apa yang telah kamu dapatkan?
Apakah semua itu sudah kamu amalkan?
Apakah sudah kamu bagikan?
Ingat! Semua akan dimintai pertanggungjawaban, Dian.
Jadi, segala sesuatu harus dipikirkan dan dipersiapkan.
Aku sadar, bahwa aku kurang mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan untukku. Begitu besarnya, hingga aku lupa dan terlena bahwa Dialah yang seharusnya kupuja. Malu, malu pada diri ini. Kenapa, seolah apa yang aku miliki, apa yang aku bisa, apa yang aku dapati adalah karena usahaku, padahal tanpa Kuasa-Nya aku hanyalah sebutir tanah yang tiada artinya. Astaghfirullah.
Allah, Engka benar-benar Maha Besar. Aku terpaku, terdiam dalam munajahku pada-Mu. Betapa bodohnya hamba, betapa sombongnya hamba, betapa hinanya hamba. Engkaulah Dzat yang Maha Mendengar, yang Maha Mengetahui yang tersembunyi, yang Maha Diraja yang merajai kerajaan langit dan bumi. Hanya kepada-Mu hamba mengadu, hanya kepada-Mu hamba berkeluh kesah.
Allah, Syukurku senantiasa kupanjatkan kepada-Mu. Engkau jawab setiap doa-doaku. Engkau tunjukkakn jalan-Mu, dan Engkau pertemukan aku  dengan orang-orang yang berilmu. Inilah tonggak dari teka-teki yang selama ini menjadi misteri. Aku sadar, bahwa memang renacana-Mu jauh lebih baik dari apa yang hamba rencanakan.
Tentang beliau, guru yang senantiasa memberikan teka-teki kepadaku. Aku ucapkan terima kasih. Semua ilmu yang kau berikan kepadaku sangat bermanfaat. Aku benar-benar bahagia, hari ini, esok, dan seterusnya. Terima kasih.
Sebuah senyum yang selalu sama. Senyuman itu masih kuingat hingga hari ini. 

Jumat, 28 April 2017

ADA YANG BEDA DARI BOROBUDUR




Candi Borobudur adalah salah satu candi terbesar di Indonesia. Candi ini pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia, namun sejak 7 Juli 2007 candi Borobudur sudah bukan bagian dari 7 keajaiban dunia. Lepas dari itu, Borobudur tetaplah mempesona dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokan maupun mancanegara.
Kali ini saya akan berbagi informasi mengenai keadaan candi Borobudur saat ini.
 coba perhatikan anak tangga borobudur, bandingkan dengan gambar di bawah ini!
Sudah menemukan perbedaannya?

Pada gambar pertama anak tangga dilapisi kayu sedangkan pada gambar kedua tidak. Berdasarkan wawancara yang saya lakukan dengan  Balai Konservasi Borobudur (BKB), pelapisan anak tangga itu dilakukan baru sekitar satu tahunan. Ini dilakukan supaya anak tangga candi Borobudur tidak semakin aus dan tetap terjaga hingga masa mendatang.

Menurut narasumber bahan yang dipakai untuk melapisi anak tangga Borobudur ada dua, yaitu bahan karet dan kayu. Bahan karet yang dipakai sendiri adalah bahan yang diimpor khusus dari Jerman yang merupakan jenis karet yang biasa dipakai di lintasan lari. Untuk kebutuhan pelapisan tangga tersebut, telah dianggarkan dana sebesar Rp 570 juta. Untuk jenis kayu yang dipakai adalah kayu jati. 


Selain itu ada pemandangan menarik saat aku berkunjung ke Borobudur Desember lalu.
Semua ini pada hakikatnya bertujuan untuk menjaga keaslian Candi Borobodur. Untuk itu, sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda juga ikut serta dalam melestarikan dan menjaga aset ibu pertiwi.